Translate

Minggu, 13 September 2015

CONTOH KERANGKA CERPEN

SANG MAHA SEGALANYA

ABSTRAKSI
          Tuhan Maha Adil. Segala karunia yang Dia berikan membuat kita sadar bahwa kita hanyalah makhluk lemah tak berdaya. Udara yang kita hirup, tanah yang kita injak, pohon yang memberikan oksigen dengan cuma-cuma. Tapi apa? Kita begitu angkuh untuk menjaga apa yang Tuhan titipkan, dan kita hanya bisa merusaknya. Pantas Tuhan terkadang murka dan ingin membuat kita sadar akan kesalahan yang banyak kita perbuat. Tetapi Tuhan juga Maha Penolong hambanya. Aku dan adikku, Sarah yang menjadi saksi bisu betapa Tuhan Maha Penolong, Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Ada, Tuhan Maha Segalanya.

ORIENTASI
          Tepat 2 tahun yang lalu dari peristiwa yang hampir merenggut nyawaku dan adikku, Sarah. Malam itu, hujan deras disertai petir membangunkanku dari mimpi buruk yang membuat tubuhku gemetar hebat, keringat bercucuran melewati pelipis mata yang setengah terbuka. Kupandangi wajah adikku yang tertidur pulas di ranjangku sambil memeluk boneka teddy bear berwarna coklat muda dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya memberi kesan lucu. Itu kado dariku di ulang tahunnya yang ke-7 tiga bulan yang lalu. Ya, Ayah dan Ibuku sudah 2 hari ini belum pulang karena harus merawat Nenek yang sedang sakit keras di luar kota. Kami terpaksa tidak ikut karena saat itu belum masuk liburan sekolah. Aku bangun dan duduk ditepi ranjang dengan tubuh yang masih setengah tersadar. Lalu aku berjalan menuju dapur sambil mengikat rambut panjangku yang berantakan. Kulihat dari balik jendela dapur, petir masih saling menyambar di atas lereng yang tampak gundul, tak ada pohon. Aku takut.

KOMPLIKASI
          Suara gemuruh melahap suara adzan subuh yang tak lagi terdengar. Dan sekali lagi aku terbangun. Suara teriakan tetangga membuatku merinding. Dengan segera aku melihat keadaan luar rumah. Banyak orang berlarian untuk menyelamatkan diri dan harta bendanya. Tanah depan rumahku mulai retak. Aku panik dan kembali kedalam untuk membangunkan adikku dan segera mengungsi ke tempat aman. Kulihat adikku yang sedang menangis sambil berteriak memanggil ayah dan ibu ku, aku mencoba menenangkannya. Berhasil, dia berhenti menangis. Tapi saat aku ajak dia pergi ketempat yang aman, dia menolak. Katanya dia ingin menunggu ayah dan ibu pulang, dia menangis saat aku paksa pergi. Aku panik. Ku coba menenangkan diriku dahulu. Aku melirik ke arah lemari ayah dan ibu yang terbuat dari kayu jati. Ini ide tergila yang pernah ada. Untungnya Sarah mau mengikuti ide gilaku ini.

RESOLUSI
          Gempa! Terjadi Gempa! Dan kami berada didalam lemari pakaian yang baru dibeli papa 2 bulan yang lalu. Disini lumayan luas dari lemari pakaianku dan sarah. Pintu lemari sudah aku tali dengan tali pramuka simpul seadanya. Gempa masih terasa, dan kami sama-sama ketakutan. Kami merasakan seperti banyak batu dan tanah yang berjatuhan menuju rumah kami. Longsor. Ya aku baru menyadari tanah lereng belakang rumah kami mulai longsor. Kami pasrah. Berserah diri pada Yang Maha Kuasa jalan akhir kami. Lemari kami terjatuh dan posisi kami telungkup, tak bisa bergerak. Ayah, Ibu tolong kami. Kurasakan sepertinya kami telah terkubur. Dan kami kelaparan.

KODA
          Sudah 2 jam kami terjebak disini, tim penyelamat belum menemukan kami. Kami tak bisa mendengar apapun. Keringat membuat baju kami basah. Tak pernah sekalipun kulepaskan genggaman tanganku dari Sarah. Aku sangat menyayanginya. Aku berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkan dia walaupun aku sebagai jaminannya.
          Gelap. Semuanya gelap. Apakah aku tertidur? Mimpi seperti apa ini? apakah aku sudah mati? Aku mendengar suara tangisan ayah, ibu dan adikku tapi aku tidak bisa menemukan mereka. Aku takut. Tuhan, biarkan aku melihat mereka sekali lagi.

          Kulihat Ibu menangis disebelahku. Ini bukan mimpi. Aku ada di rumah sakit. Badanku masih susah untuk digerakkan. Kucoba berbicara tetapi tak ada suara yang keluar. Ibu menyadari aku terbangun dan segera memanggil ayah dan adikku. Mereka mencoba berkomunikasi padaku, kata mereka aku tidak sadarkan diri selama 3 hari. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Sang Khalik telah memberikan kesempatan untuk bernafas kembali. Engkau memang Maha Segalanya.

Minggu, 09 Agustus 2015

ANALISIS CERPEN "JURU MASAK"


 UNSUR INTRINSIK

Tema   : Kehidupan
Judul   : Juru masak
Tokoh  :
1.      Makaji
2.      Azrial 
3.      Renggogeni
4.      Mangkudun 
5.      Yusnaldi
Penokohan      :
a.       Makaji           : Baik hati , senang membantu sesama , tidak pendendam 
·      Bukti :
a.Makaji selalu membantu warga yang sedang ada aacara kenduri ,        makaji tidak pernah membedakan orang kaya atau orang miskin      semua di bantu oleh nya 
b.Walaupun makaji di hina oleh mangkudun dan lamaran anak            nya yang di tolak mentah - mentah makaji tidak pernah merasa    dendam kepada mangkudun
b.      Azrial             : Pendendam , penyayang , tidak bsa menerima kenyataan , pekerja keras 
·      Bukti  :
a.      Azrial tidak memperbolehkan ayah nya untuk membantu kenduri di rumah mangkudun , karena azrial pernah di tolak oleh mangkudun pada saat melamar renggogeni.
b.     Azrial yang mengajak ayah nya untuk tinggal di jakarta bersamanya dan menghabiskan hari tua nya dengan azrial, jika makaji ingin tetap menjadi jurumasak makaji bisa bekerja di rumah makan milik azrial.
c.      Azrial pergi dari kampung dan bekerja di suatu rumah makan menjadi tukang cuci piring, sedikit demi sedikit azrial mengumpulkan uang dari hasil kerja keras nya dan azrial mampu mempunyai enam rumah makan dan dua puluh empat pegawai.
c.       Renggogeni   : sabar , penurut , penyayang 
·      Bukti  :  Renggogeni tidak marah kepada ayah nya meski ia di paksa oleh                                 ayah nya untuk menikah dengan orang pilihan ayahnya.
d.      Mangkudun : Sombong , suka memaksakan kehendak ,membeda-bedakan status                                    seseorang dari kekayaan nya
·      Bukti  :  
a.      Mangkudun menolak mentah - mentah lamaran dari azrial    karena azrial        anak dari tukang juru masak.
b.     Mangkudun hanya mau menerima mantu yang sederajat dengannya.
c.      Mangkudun memaksa anak nya untuk menikah dengan lelaki pilihan nya           yang tidak di sukai oleh renggogeni.
Alur     : Alur campuran (alur maju dan alurmundur, flash back )
·         Flash back       : Di dalam cerpen tersebut azrial mengingat perkatan mangkudun yang menolak lamaran nya , karena ia hanya anak tukang juru masak yang tidak sederajat dengan mangkudun .
Setting :
a.       Tempat          : Di dusun lareh pajang, Di Jakarta, Di rumah mangkudun 
b.      Waktu            : Di rumah mangkudun ( pada saat kenduri renggogeni                                                          dengan yusnaldi )
c.       Suasana         : Di rumah mangkudun ( kacau , acara tidak berjalan seperti                                                 yang di harap kan ) 
Sudut Pandang           : Pengarang menggunakan orang ke 3
Amanat                       :
1.        Jangan jadi orang yang mempunyai sifat pendendam pada orang yang sudah pernah menyakiti hati kita .
2.        Jangan suka memaksakan kehendak orang lain 
3.        Jadilah orang yang bisa menerima kenyataan walaupun kenyataan itu menyakitkan.
4.        Jangan suka membeda-bedakan status seseorang

UNSUR EKSTERNAL

Nilai sosial  : Makaji yang membantu warga lareh pajang dalam acara kenduri yang semua                             masakannya di racik oleh makaji sendiri 
Nilai budaya :
1.      Gulai adalah masakan khas pada saat pesta 
2.      Adanya perjodohan yang di dasar kan pada hutang budi .
3.      Setiap ada pesta harus masakan makaji .
4.      Para ketua kampung menyiapkan pencak guna menyambut mempelai pria
Nilai moral : Makaji yang tidak mempunyai rasa dendam kepada mangkudun padahal makaji                      sudah dihina oleh mangkudun